Rabu, 08 Agustus 2012

Ibu, Kaulah Pejuang Sepanjang Masa

Image and video hosting by TinyPic


FiLM Oshin. Serial televisi yang di angkat dari kisah nyata dan sudah pernah di putar di TVRI akir tahun 80-an itu. Di tayangkan ulang di salah satu stasiun televisi. Beberapa anggota masyarakat dari berbagai lapisan di minta memberikan koemntar positif. Oshin, tokoh perempuan utama dalam serial itu, adalah seorang perempuan perkasa. Sejak ia kecil hidupnya teramat keras. Masalah demi masalah, kesulitan demi kesulitan ia hadapi, tapi pada akhirnya semua orang harus mengakui bahwa ia pejuang tangguh. Dia selalu mampu menaklukkan tantangan adan badai yang menghadapi. Saya tahu itu karena saya dulu mengikuti serial Oshin meski kini kisah itu hanya tinggal sayup-sayup di memori. Oshin memang satu di antara contoh dan bukti nyata perjuangan serta ketangguhan kaum perempuan.



Penonton Oshin kembali, menghadirkan sosok ibu saya yang demikian nyata di pelupuk mata. Perempuan paling berharga dalam hidup saya itu sejak kecil terbiasa dengan kehidupan keras, sebagai anak sulung dari lima bersaudara, ibu harus bekerja apa aja membantu menafkahi keluarga. Maklum, kakek saya hanyalah petani kecil dan kadang menambah penghasilan dengan menjadi sopir gerobak. Pulang sekolah, ibu harus turun ke sawah sebagai buruh tani atau sekedar mencari rumput untuk pakan sapi sebagai penghela gerobak. Itu semua di lakukanya sambil menggendong salah satu adiknya! Itu di lakukan di usianya yang masih anak SD! Sampai kemudian, ibu tidak lulus sekolah dasar.



Sejak itu, hidup ibu sepenuhnya di abadikan untuk membantu keluarga: berjualan ke pasar, membuka warung makanan, ataupun berjualan keliling kampung ke kampung menggunakan sepeda kumbang. Ibu pergi dini hari untuk berbelanja ke pasar, siang berjualan, dan malam memasak makanan yang akan di jual. Tiada henti. Hari demi hari terus berputar demikian.



Ketika ibu sudah menikah pun, kehidupan nyaris tidak pernah berubah. Ibu memang tidak lagu membantu orang tua menafkahi keluarga karena adik-adiknya juga mulai bekerja, tapi ibu harus bekerja membantu bapak menghidupi keluarga baru kami. Saya masih ingat, setiap hari, ibu bangun dini untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan mempersiapkan segala sesuatu bagi suami dan anak-anaknya, baru kemudian berangkat bekerja ke kota menggenjot sepeda belasan kilo meter, sebagai buruh obras di industri konfeksi rumahan dengan gaji tak seberapa. Bahkan ibu masih nyambi jualan makanan kecil untuk teman-teman kerjanya. Pulang ke rumah, pukul lima sore, ibu kembali sibuk dengan pekerjaan rumah tangga.



Saat ibu berhenti bekerja di kenfeksi lebih dari sepuluh tahun lalu, ternyata bukan berarti masa istirahat telah tiba. Ibu kemudian sibuk dengan sawah peninggalan eyang, jahitan tetangga yang di kerjakan di rumah, jyga warung kecil kami. Kini, ia masih sangat perkasa usianya yang setengah abad, bahkan saat asam urat sudah mengganggu sendi sendinya. Saat kami, anak-anaknya, sudah tak lagi menjadi tanggung jawabnya, beliau tetap ke sawah mengerjakan sawah kecil kami di bantu beberapa tetangga; kepasar untuk berbelanja bagi warung kecil kami, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan pembantu ataupun alat-alat elektronik, dan setiap beraktivitas sosial sebagaimana warga desa pada umumnya. Bahkan Ahad siang kemarin ketika saya menelfon ke kampung, tak ada orang di rumah. Pasti ibu tengah ke sawah atau rewang(membantu di tempat orang hajatan).



Ibu, kapankah engkau akan istirahat? Sering saya ingin bertanya itu. Namun, tanpa beliau pernah menjawabnya, saya sudah tahu bahwa istirahat hanya berarti satu KEMATIAN. Selama hayat masih di kandung badan,ibu tetap akan berjuang. Saya bangga dengan ibu, pejuang sepanjang masa, seperti Oshin dan para pejuang perempuan lainya di dunia ini. Saya berjanji ibu: saksikanlah! Anakmu akan mengikuti jejakmu, menjadi pejuang sepanjang masa..



#azimah rahayu....

1 komentar: